(1) Bagan pemisah lalu lintas di laut (traffic separation scheme) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf a ditetapkan berdasarkan:
a. kondisi lebar alur-pelayaran;
b. dimensi kapal;
c. kepadatan lalu lintas berlayar;
d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal;
f. alur tertentu;
g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk Navigasi internasional.
(2) Rute dua arah (two way routes) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf b ditetapkan berdasarkan:
a. kondisi lebar alur-pelayaran;
b. dimensi kapal;
c. kepadatan lalu lintas berlayar;
d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal;
f. alur tertentu;
g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional.
(3) Garis haluan yang dianjurkan (recommended tracks), sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf c ditetapkan untuk:
a. panduan nakhoda kapal saat memasuki alur-pelayaran di laut;
b. garis panduan yang telah ditetapkan pada peta laut;
c. menunjukan titik kritis dari satu belokan;
d. memperjelas rute yang aman untuk kapal.
(4) Rute air dalam (deep water routes) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf d ditetapkan berdasarkan:
a. dimensi kapal;
a. under keel clearance;
b. draught kapal;
c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut;
d. bahaya-bahaya navigasi;
e. mengambarkan titik-titik tertentu untuk suatu belokan.
(5) Daerah yang harus dihindari (areas to be avoided) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf e ditetapkan berdasarkan:
a. lokasi labuh jangkar yang telah ditetapkan;
b. lokasi yang dilindungi;
c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut;
d. bahaya-bahaya navigasi.
(6) Daerah lalu lintas pedalaman (inshore traffic zones) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf f ditetapkan berdasarkan:
a. diperuntukan untuk kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter;
b. rute diperuntukan untuk menuju dan keluar pelabuhan;
c. diperuntukan bagi kapal ikan di sekitar traffic separation scheme (TSS) yang akan melaksanakan kegiatan;
d. kapal dalam kondisi tidak beroperasi dengan baik.
(7) Daerah kewaspadaan (precaution areas) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf g ditetapkan berdasarkan:
a. lokasi labuh sementara;
b. daerah joint kapal untuk masuk ke bagan pemisah;
c. daerah ditentukan untuk kapal memotong suatu bagan pemisah.
(8) Daerah-daerah putaran (roundabouts) sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 19 ayat (1) huruf h ditetapkan berdasarkan:
a. kondisi lebar alur-pelayaran;
b. dimensi kapal;
c. kepadatan lalu lintas berlayar;
d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal;
f. alur tertentu;
g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional;
h. digunakan untuk memandu traffic dengan cara mengitari berlawanan arah jarum jam suatu daerah pemisah berbentuk bulat.