Koreksi Pasal 20
PERMEN Nomor pm68 Tahun 2011 | Peraturan Menteri Nomor pm68 Tahun 2011 tentang ALUR PELAYARAN DI LAUT
Teks Saat Ini
(1) Bagan pemisah lalu lintas di laut (traffic separation scheme) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf a ditetapkan berdasarkan:
a. kondisi lebar alur-pelayaran;
b. dimensi kapal;
c. kepadatan lalu lintas berlayar;
d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal;
f. alur tertentu;
g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk Navigasi internasional.
(2) Rute dua arah (two way routes) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf b ditetapkan berdasarkan:
a. kondisi lebar alur-pelayaran;
b. dimensi kapal;
c. kepadatan lalu lintas berlayar;
d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal;
f. alur tertentu;
g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional.
(3) Garis haluan yang dianjurkan (recommended tracks), sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf c ditetapkan untuk:
a. panduan nakhoda kapal saat memasuki alur-pelayaran di laut;
b. garis panduan yang telah ditetapkan pada peta laut;
c. menunjukan titik kritis dari satu belokan;
d. memperjelas rute yang aman untuk kapal.
(4) Rute air dalam (deep water routes) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf d ditetapkan berdasarkan:
a. dimensi kapal;
a. under keel clearance;
b. draught kapal;
c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut;
d. bahaya-bahaya navigasi;
e. mengambarkan titik-titik tertentu untuk suatu belokan.
(5) Daerah yang harus dihindari (areas to be avoided) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf e ditetapkan berdasarkan:
a. lokasi labuh jangkar yang telah ditetapkan;
b. lokasi yang dilindungi;
c. kondisi dari dasar laut yang tertera di peta laut;
d. bahaya-bahaya navigasi.
(6) Daerah lalu lintas pedalaman (inshore traffic zones) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf f ditetapkan berdasarkan:
a. diperuntukan untuk kapal yang panjangnya kurang dari 20 meter;
b. rute diperuntukan untuk menuju dan keluar pelabuhan;
c. diperuntukan bagi kapal ikan di sekitar traffic separation scheme (TSS) yang akan melaksanakan kegiatan;
d. kapal dalam kondisi tidak beroperasi dengan baik.
(7) Daerah kewaspadaan (precaution areas) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf g ditetapkan berdasarkan:
a. lokasi labuh sementara;
b. daerah joint kapal untuk masuk ke bagan pemisah;
c. daerah ditentukan untuk kapal memotong suatu bagan pemisah.
(8) Daerah-daerah putaran (roundabouts) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) huruf h ditetapkan berdasarkan:
a. kondisi lebar alur-pelayaran;
b. dimensi kapal;
c. kepadatan lalu lintas berlayar;
d. bahaya pelayaran;
e. sifat-sifat khusus kapal;
f. alur tertentu;
g. setiap alur yang biasanya digunakan untuk pelayaran internasional;
h. digunakan untuk memandu traffic dengan cara mengitari berlawanan arah jarum jam suatu daerah pemisah berbentuk bulat.
Koreksi Anda
