PENGHARMONISASIAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG, RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH, RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN
(1) Permohonan Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN diajukan secara tertulis oleh Pemrakarsa kepada Menteri dengan tembusan kepada Direktur Jenderal.
(2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan secara elektronik melalui Aplikasi E- Harmonisasi.
Permohonan Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus melampirkan dokumen persyaratan yang meliputi:
a. Naskah Akademik, kecuali untuk Rancangan UNDANG-UNDANG mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara, penetapan PERATURAN PEMERINTAH pengganti UNDANG-UNDANG, pencabutan UNDANG-UNDANG, dan pencabutan PERATURAN PEMERINTAH pengganti UNDANG-UNDANG;
b. keterangan yang memuat pokok pikiran dan materi muatan yang diatur untuk Rancangan UNDANG-UNDANG mengenai anggaran pendapatan dan belanja negara, penetapan PERATURAN PEMERINTAH pengganti UNDANG-UNDANG, pencabutan UNDANG-UNDANG, dan pencabutan PERATURAN PEMERINTAH pengganti UNDANG-UNDANG;
c. surat keputusan mengenai pembentukan Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian;
d. Rancangan UNDANG-UNDANG yang telah mendapatkan paraf persetujuan anggota Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian; dan
e. daftar Prolegnas atau Izin Prakarsa.
Permohonan Pengharmonisasian Rancangan PERATURAN PEMERINTAH sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus melampirkan dokumen persyaratan meliputi:
a. naskah urgensi;
b. surat keputusan mengenai pembentukan Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian;
c. Rancangan PERATURAN PEMERINTAH yang telah mendapatkan paraf persetujuan anggota Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian; dan
d. daftar Progsun PP atau Izin Prakarsa.
Permohonan Pengharmonisasian Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 harus melampirkan dokumen persyaratan meliputi:
a. naskah urgensi;
b. surat keputusan mengenai pembentukan Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian;
c. Rancangan Peraturan PRESIDEN yang telah mendapatkan paraf persetujuan anggota Panitia Antarkementerian dan/atau Antarnonkementerian;
d. daftar Progsun Perpres atau Izin Prakarsa; dan
e. izin prinsip untuk substansi Peraturan PRESIDEN yang membutuhkan persetujuan dari pimpinan kementerian/lembaga terkait.
(1) Direktorat yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang harmonisasi peraturan perundang-undangan melakukan pemeriksaan administratif terhadap kelengkapan dan kesesuaian dokumen persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, Pasal 7, dan Pasal 8.
(2) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) permohonan dinyatakan tidak lengkap dan/atau tidak sesuai, direktorat yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang harmonisasi peraturan perundang-undangan menyampaikan pemberitahuan melalui Aplikasi E- Harmonisasi kepada Pemrakarsa dengan disertai alasan.
(3) Pemrakarsa menyampaikan kelengkapan dan kesesuaian permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling lambat 2 (dua) hari kerja terhitung sejak pemberitahuan disampaikan.
(4) Dalam hal Pemrakarsa tidak menyampaikan kelengkapan dan kesesuaian dalam batas waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (3), permohonan dikembalikan kepada Pemrakarsa.
(5) Pemrakarsa dapat mengajukan kembali permohonan yang telah dikembalikan sebagaimana dimaksud pada ayat (4).
(6) Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) permohonan dinyatakan lengkap dan sesuai, direktorat yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang harmonisasi peraturan perundang-undangan melakukan rapat Pengharmonisasian atas Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, atau Rancangan Peraturan PRESIDEN.
(1) Rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN dilakukan dalam rangka memperoleh kesepakatan dan kebulatan konsepsi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN.
(2) Rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN dilakukan dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja terhitung sejak persyaratan permohonan dinyatakan lengkap dan sesuai.
(3) Dalam hal Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut, rapat Pengharmonisasian dapat dilakukan lebih dari 5 (lima) hari kerja terhitung sejak persyaratan permohonan dinyatakan lengkap dan sesuai.
(4) Rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN dilakukan dengan mengikutsertakan:
a. Pemrakarsa;
b. kementerian/badan/lembaga/komisi terkait; dan
c. perancang peraturan perundang-undangan.
Selain pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (4) Rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN dapat mengikutsertakan analis hukum dan/atau pihak lain yang terkait dengan substansi.
(1) Rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 meliputi:
a. rapat persiapan;
b. rapat pleno; dan/atau
c. rapat tim kecil.
(2) Rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh direktorat yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang harmonisasi peraturan perundang- undangan.
Pasal 13
(1) Dalam melaksanakan rapat Pengharmonisasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12, direktorat yang melaksanakan tugas dan fungsi di bidang harmonisasi peraturan perundang-undangan melakukan analisis konsepsi terhadap Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN.
(2) Analisis konsepsi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan terhadap substansi dan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan.
(3) Analisis konsepsi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan:
a. keterkaitan dan keselarasan substansi dengan Pancasila, UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik INDONESIA Tahun 1945, dan peraturan perundang- undangan lain;
b. asas hukum;
c. putusan Mahkamah Konstitusi mengenai pengujian UNDANG-UNDANG terhadap UNDANG-UNDANG Dasar Negara Republik INDONESIA Tahun 1945;
d. putusan Mahkamah Agung mengenai pengujian peraturan perundang-undangan di bawah UNDANG-UNDANG terhadap UNDANG-UNDANG;
e. yurisprudensi;
f. alasan pembentukan;
g. dasar kewenangan dan peraturan perundang- undangan yang memerintahkan pembentukan peraturan perundang-undangan;
h. arah dan jangkauan pengaturan;
i. keterkaitan dengan rencana pembangunan jangka panjang nasional, rencana pembangunan jangka menengah nasional, dan rencana kerja pemerintah;
j. hubungan terhadap kelembagaan yang sudah ada;
k. konsekuensi terhadap keuangan negara; dan/atau
l. unsur lainnya.
(1) Hasil analisis konsepsi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dituangkan dalam bentuk tanggapan tertulis.
(2) Tanggapan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menjadi bahan rapat Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN.
(1) Rapat persiapan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf a dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang utuh terhadap konsepsi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN.
(2) Rapat persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a. rapat internal;
b. rapat bilateral antara Pemrakarsa dan Kementerian;
dan/atau
c. rapat trilateral antara Pemrakarsa, Kementerian, dan kementerian/badan/lembaga/komisi terkait.
(3) Rapat persiapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Direktur Jenderal, Direktur Harmonisasi, atau pejabat yang ditunjuk.
(1) Rapat pleno sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat
(1) huruf b dimaksudkan untuk:
a. memperoleh masukan dari kementerian/badan/lembaga/komisi terkait terhadap substansi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN;
b. membahas substansi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN terkait masukan sebagaimana dimaksud dalam huruf a;
c. MEMUTUSKAN substansi Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN yang bersifat krusial; dan/atau
d. membubuhkan paraf persetujuan substansi pada setiap lembar naskah Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN oleh wakil dari masing-masing kementerian/badan/lembaga/komisi terkait.
(2) Rapat pleno sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Direktur Jenderal.
(3) Dalam hal Direktur Jenderal berhalangan hadir, Direktur Jenderal dapat menugaskan:
a. Direktur Harmonisasi;
b. pimpinan tinggi pratama lainnya di lingkungan Direktorat Jenderal; atau
c. perancang peraturan perundang-undangan ahli utama.
(4) Rapat pleno sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dihadiri oleh wakil dari Pemrakarsa yang menguasai substansi dengan jabatan paling rendah pejabat pimpinan tinggi pratama yang berwenang mengambil keputusan.
Dalam hal hasil rapat pleno terdapat materi muatan Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN yang:
a. bertentangan dengan peraturan perundangan-undangan
yang lebih tinggi;
b. belum tercapai kesepakatan substansi kementerian/badan/lembaga/komisi;
c. tidak sesuai dengan perkembangan kebijakan nasional karena sedang terjadi proses pencabutan atau terjadi proses perubahan yang mengubah atau perubahan yang mengganti peraturan perundang-undangan terkait;
dan/atau
d. masih perlu dikaji dan dibahas kembali oleh Pemrakarsa, Direktur Jenderal dapat mengembalikan permohonan Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN kepada Pemrakarsa.
(1) Rapat tim kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) huruf c untuk menyempurnakan Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sesuai dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan sebagai tindak lanjut hasil rapat pleno.
(2) Rapat tim kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh Direktur Jenderal, Direktur Harmonisasi, atau pejabat yang ditunjuk.
(3) Rapat tim kecil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dihadiri oleh Pemrakarsa dan wakil dari kementerian/badan/lembaga/komisi terkait yang menguasai substansi dan berwenang mengambil keputusan.
(1) Dalam hal pada rapat tim kecil terdapat permasalahan terkait substansi yang tidak dapat diputuskan, permasalahan tersebut dilaporkan pada rapat pleno untuk mendapatkan keputusan.
(2) Dalam hal permasalahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat diselesaikan pada rapat pleno, Direktur Jenderal melaporkan kepada Menteri untuk menyelenggarakan rapat tingkat menteri.
(3) Dalam hal permasalahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat diselesaikan pada rapat tingkat menteri, Menteri menyampaikan surat kepada menteri koordinator sesuai dengan bidangnya untuk dibahas dan diputuskan pada rapat tingkat menteri koordinator.
(4) Dalam hal permasalahan sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) dapat diselesaikan pada tingkat menteri koordinator, Menteri menindaklanjuti Pengharmonisasian berdasarkan hasil keputusan pada rapat tingkat menteri koordinator.
(5) Dalam hal pada rapat koordinasi tingkat menteri koordinator sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak menghasilkan keputusan, Menteri menyampaikan permasalahan tersebut kepada
untuk mendapatkan keputusan.
(6) Menteri menindaklanjuti Pengharmonisasian berdasarkan hasil keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (5).
(1) Terhadap Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN yang telah disepakati dalam rapat Pengharmonisasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 dan Pasal 18, minimal pejabat pimpinan tinggi pratama yang mewakili Pemrakarsa dan pejabat pimpinan tinggi pratama yang mewakili Kementerian membubuhkan paraf persetujuan substansi pada setiap lembar naskah Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN.
(2) Pembubuhan paraf persetujuan substansi pada setiap lembar naskah Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara elektronik.
(1) Penyampaian hasil Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN berupa:
a. Surat Selesai Pengharmonisasian untuk Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN yang telah disepakati dan mendapatkan paraf persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20; atau
b. surat penyampaian kembali permohonan Pengharmonisasian untuk Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN yang dikembalikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.
(2) Penyampaian hasil Pengharmonisasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara elektronik melalui Aplikasi E-Harmonisasi.
(1) Direktur Jenderal atas nama Menteri menyampaikan Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN yang telah selesai Pengharmonisasian kepada Pemrakarsa untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Penyampaian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui Surat Selesai Pengharmonisasian dengan melampirkan naskah Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN
yang telah mendapatkan paraf persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1).
(3) Surat Selesai Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditembuskan kepada menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesekretariatan negara.
(4) Ketentuan mengenai format Surat Selesai Pengharmonisasian Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(1) Penyampaian kembali Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN disampaikan secara tertulis dengan memuat alasan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.
(2) Ketentuan mengenai format surat penyampaian kembali Pengharmonisasian untuk Rancangan UNDANG-UNDANG, Rancangan PERATURAN PEMERINTAH, dan Rancangan Peraturan PRESIDEN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.