Langsung ke konten utama

Koreksi Pasal 31

PERMEN Nomor pm-143-um-001-mpek-2012 Tahun 2013 | Peraturan Menteri Nomor pm-143-um-001-mpek-2012 Tahun 2013 tentang PENATAUSAHAAN KEUANGA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

PDF Sumber
100%
Hal. 1
Hal. 1
Teks Saat Ini
(1) Pembukuan dilaksanakan berdasarkan Dokumen Sumber pembukuan yang diterima, meliputi : a. DIPA, revisi DIPA, SKPA dan SPM yang dinyatakan sah (SPM- UP/SPM-TUP/SPM-GUP/SPM-GUP Nihil/SPM-LS Bendahara/ SPM-LS Pihak Ketiga); b. kuitansi pembayaran atas uang yang bersumber dari UP; c. kuitansi/daftar pembayaran atas uang yang bersumber dari SPM- LS Bendahara; d. tanda terima atau bukti transfer dalam rangka penyaluran dana kepada BPP dan penerimaan LPJ dari BPP; e. kuitansi pembayaran panjar perjalanan dinas dan perhitungan rampung perjalanan dinas; f. bukti penyetoran sisa UP dan pengembalian belanja ke Kas Negara; g. bukti pemungutan pajak dan/atau PNBP serta penyetoran pajak dan/atau PNBP ke Kas Negara; h. Cek/Giro/Bilyet; i. rekening koran dari bank; j. Berita Acara Kesalahan Pembukuan; dan k. Berita Acara Kerugian Negara yang ditetapkan oleh BPK. (2) Aktivitas Penerimaan DIPA dan SPM yang dinyatakan sah, pembukuannya sebagai berikut : a. Pagu DIPA yang telah mendapat pengesahan merupakan pagu anggaran tertinggi yang disediakan untuk Satker atau UPT, dibukukan di sisi debet dan kredit (in-out) pada BKU dan dicatat sesuai mata anggaran (kode akun) berkenaan pada Buku Wasgar; b. Revisi DIPA yang telah mendapat pengesahan merupakan perubahan pagu anggaran yang disediakan untuk Satker atau www.djpp.kemenkumham.go.id UPT baik penambahan, pengurangan atau pergeseran pagu anggaran dibukukan disisi debet dan kredit (in-out) pada BKU, dan dicatat sesuai mata anggaran (kode Akun) berkenaan pada Buku Wasgar; c. SPM-LS kepada pihak ketiga/rekanan yang dinyatakan sah merupakan realisasi belanja yang dilakukan kepada Satker atau UPT dan mengurangi/membebani pagu anggaran yang disediakan dalam DIPA, pelaksanaan pembayarannya dilakukan langsung dari Kas Negara kepada pihak ketiga/rekanan, dibukukan sebesar nilai bruto disisi debet dan disisi kredit (in-out) pada BKU dan dicatat sebagai pengurang pagu pada kolom mata anggaran berkenaan pada Buku Wasgar; d. SPM-UP yang dinyatakan sah merupakan Dokumen Sumber yang berfungsi sebagai bukti penyediaan UP dari KPPN kepada Satker atau UPT melalui Bendahara Pengeluaran dibukukan sebagai berikut: 1) dibukukan sebesar nilai bruto disisi debet pada BKU, BP Kas Bank dan BP-UP berkenaan; dan 2) dibukukan sebesar nilai potongan (bila ada di sisi kredit BKU, BP Kas Bank dan BP-UP berkenaan. e. SPM-TUP yang dinyatakan sah merupakan Dokumen Sumber yang berfungsi sebagai bukti penyediaan tambahan UP dari KPPN kepada Satker atau UPT melalui Bendahara Pengeluaran, dibukukan sebesar nilai bruto disisi debet pada BKU, BP Kas Bank dan BP-UP berkenaan; f. SPM-GUP yang dinyatakan sah merupakan Dokumen Sumber yang berfungsi sebagai sarana pengisian kembali (revolving) UP, dibukukan sebagai berikut: 1) dibukukan sebesar nilai bruto disisi debet pada BKU, BP Kas Bank dan BP-UP serta dibukukan sebagai pengesahan pada Buku Wasgar berkenaan; dan 2) dibukukan sebesar nilai potongan (bila ada) di sisi kredit pada BKU, BP Kas Bank dan BP-UP berkenaan. g. SPM-GUP Nihil yang dinyatakan sah merupakan Dokumen Sumber yang berfungsi sebagai bukti pengesahan belanja yang menggunakan UP/TUP, dibukukan sebesar nilai bruto disisi debet dan disisi kredit (in-out) pada BKU dan dibukukan sebagai pengesahan pada Buku Wasgar berkenaan. h. SPM-LS Bendahara yang dinyatakan sah merupakan realisasi belanja yang dilakukan oleh PPK dan mengurangi/membebani pagu anggaran yang disediakan dalam DIPA, pelaksanaan www.djpp.kemenkumham.go.id pembayarannya dilakukan dari Kas Negara kepada pegawai yang berhak menerima pembayaran melalui Bendahara Pengeluaran, dibukukan sebagai berikut : 1) dibukukan sebesar nilai bruto disisi debet pada BKU, BP Kas Bank dan BP-LS Bendahara serta dicatat sebagai pengurang pagu pada kolom mata anggaran berkenaan pada Buku Wasgar; dan 2) dibukukan sebesar nilai potongan (bila ada) di sisi kredit pada BKU, BP Kas Bank dan BP-LS Bendahara. (3) Aktivitas Pembayaran Uang yang bersumber dari UP pembukuannya sebagai berikut: a. pembayaran atas UP dilakukan setelah kewajiban pihak terbayar/pihak ketiga dilaksanakan. Selanjutnya Bendahara wajib meminta kuitansi/bukti pembayaran sebesar nilai bruto dan faktur pajak (bila disyaratkan) serta mengembalikan faktur pajak yang telah disahkan oleh bendahara kepada pihak terbayar/pihak ketiga; Pembukuan kuitansi/bukti pembayaran dan faktur pajak diatur sebagai berikut : 1) dibukukan sebesar nilai bruto kuitansi/bukti pembayaran di sisi kredit pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank) dan BP-UP serta dicatat sebagai pengurang pagu pada kolom mata anggaran berkenaan pada Buku Wasgar kolom 4, 5, 7 dan 12; dan 2) dibukukan sebesar nilai faktur pajak/SSP di sisi debet pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank), dan BP-Pajak; b. setoran atas sisa UP ke Kas Negara dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran pada akhir kegiatan atau akhir tahun anggaran dengan menggunakan SSBP. SSBP yang dinyatakan sah dibukukan di sisi kredit pada BKU, BP-Kas (Tunai atau Bank), dan BP-UP berkenaan; c. setoran atas pajak yang dipungut oleh Bendahara dilakukan segera setelah dilakukan pemotongan/pemungutan dengan menggunakan Bukti Potongan Pajak dan SSP sesuai contoh Format 6A dan 6B. SSP yang dinyatakan sah dibukukan di sisi kredit pada BKU, BP-Kas (Tunai atau Bank), dan BP-Pajak. (4) Aktivitas Pembayaran Atas Uang yang bersumber dari SPM-LS Bendahara, pembukuannya sebagai berikut: a. pada dasarnya pemotongan kepada pihak terbayar telah dilakukan pada saat Penandatanganan SPM-LS Bendahara. www.djpp.kemenkumham.go.id Pelaksanaan pembayaran kepada pihak terbayar dilakukan atas nilai neto berdasarkan daftar yang telah dibuat dan dibukukan sebesar tanda terima/bukti pembayaran di sisi kredit pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank) dan BP-LS Bendahara; b. apabila setelah waktu tertentu pihak yang dituju tidak mengambil uang sebagaimana dimaksud pada huruf a, sisa uang SPM-LS Bendahara disetor ke Kas Negara dengan menggunakan SSPB sesuai contoh Format 7. SSPB yang dinyatakan sah dibukukan di sisi kredit pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank) dan BP-LS Bendahara; c. dalam hal SPM-LS Bendahara tidak mencakup pemotongan pajak pihak terbayar, bendahara wajib melakukan pemotongan pajak dimaksud pada saat pelaksanaan pembayaran. Pembukuan dilakukan sebagai berikut: 1) dibukukan sebesar tanda terima/bukti pembayaran (bruto) di sisi kredit pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank) dan BP-LS Bendahara; 2) dibukukan sebesar nilai bukti potongan pajak/SSP di sisi debet pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank), dan BP-Pajak; dan 3) SSP yang dinyatakan sah dibukukan di sisi kredit pada BKU, BP Kas (Tunai atau Bank), dan BP-Pajak. (5) Aktivitas Penyaluran Dana UP Kepada BPP dan LPJ-BPP, pembukuannya sebagai berikut: a. penyaluran dana kepada BPP pada dasarnya belum merupakan belanja/ pengeluaran kas bagi Bendahara Pengeluaran dan masih harus dipertanggungjawabkan oleh Bendahara Pengeluaran; b. BPP mempertanggungjawabkan kepada Bendahara Pengeluaran atas transaksi/pembayaran yang dilakukannya dalam bentuk LPJ-BPP; c. sebelum melakukan pembukuan Bendahara Pengeluaran wajib menguji kebenaran LPJ-BPP; d. penyaluran dana UP dibukukan sebesar tanda terima/bukti transfer kepada BPP di sisi debet dan kredit (in-out) pada BKU, di sisi kredit pada BP Kas (Tunai atau Bank), dan di sisi debet pada BP-BPP; e. LPJ-BPP sebagai Dokumen Sumber pembukuan, dibukukan pada sisi kredit pada BKU, BP-BPP, dan BP-UP serta dicatat sebagai pengurang pagu pada kolom mata anggaran berkenaan pada Buku Wasgar; www.djpp.kemenkumham.go.id f. pengembalian sisa UP dari BPP ke Bendahara Pengeluaran dibukukan sebesar jumlah pengurang/transfer di sisi debet dan kredit (in-out) pada BKU, di sisi debet pada BP Kas (Tunai atau Bank), dan di sisi kredit pada BP-BPP; dan g. pungutan pajak atas belanja/pembayaran dan penyetorannya yang dilakukan oleh BPP, dibukukan sebagai berikut: 1) dibukukan sebesar jumlah pajak yang dipungut di sisi debet pada BKU, BP-BPP dan BP-Pajak; dan 2) dibukukan sebesar jumlah pajak yang disetor di sisi kredit pada BKU, BP-BPP dan BP-Pajak. (6) Aktivitas Penyaluran Dana LS Bendahara kepada BPP, pembukuannya sebagai berikut: a. penyaluran uang LS-Bendahara kepada BPP dibukukan sebesar tanda terima/bukti transfer kepada BPP di sisi debet dan kredit (in-out) pada BKU, di sisi kredit pada BP Kas (Tunai atau Bank), dan di sisi debet pada BP-BPP; b. pembayaran yang dilakukan oleh BPP atas dana yang bersumber dari LS-Bendahara, dibukukan sebesar jumlah pembayaran di sisi kredit pada BKU, BP-BPP dan BP-LS Bendahara;dan c. setoran ke Kas Negara atas sisa dana yang bersumber dari LS- Bendahara yang dilakukan oleh BPP, dibukukan sebesar jumlah setoran di sisi kredit pada BKU, BP-BPP, dan BP-LS Bendahara. (7) Aktivitas Pemungutan dan Penyetoran Pajak atau PNBP yang dilakukan oleh BPP berdasarkan LPJ dari BPP, pembukuannya sebagai berikut: a. Pajak atau PNBP yang dipungut oleh BPP dibukukan sebesar yang dipungut di sisi debet pada BKU, BP-BPP dan BP Pajak atau BP-lain-lain/PNBP; dan b. Pajak atau PNBP yang disetor ke Kas Negara oleh BPP menggunakan SSP atau SSBP. SSP atau SSBP sesuai contoh Format 8 yang telah disahkan dibukukan sebesar jumlah yang disetor di sisi kredit pada BKU, BP-BPP dan BP Pajak atau BP- Lain-lain/PNBP. (8) Aktivitas pengambilan uang dari bank untuk pengisian brankas, dibukukan sebesar nilai cek/giro/bilyet di sisi debet dan kredit (in-out) pada BKU, di sisi kredit pada BP Kas Bank dan di sisi debet pada BP Kas Tunai. (9) Transaksi yang tercatat pada rekening koran: a. penerimaan jasa giro, dibukukan sebesar jasa giro yang diterima di sisi debet pada BKU, BP Kas Bank dan BP Lain-Lain/PNBP; www.djpp.kemenkumham.go.id b. penyetoran jasa giro ke Kas Negara, dibukukan sebesar jasa giro yang disetor di sisi kredit pada BKU, BP Kas Bank dan BP Lain- Lain/PNBP; c. pengenaan pajak atas jasa giro, dibukukan sebesar pajak yang dikenakan di sisi kredit pada BKU, Buku Kas Bank, dan BP lain- lain/PNBP; dan d. biaya administrasi bank, biaya pencetakan buku cek dan biaya meterai dianggap sebagai biaya operasional Satker yang dibayar dengan UP, dibukukan di sisi kredit pada BKU, BP- Kas Bank, BP-UP, serta dicatat sebagai pengurang pagu pada kolom mata anggaran berkenaan pada Buku Wasgar Belanja. (10) Jenis transaksi dan pencatatan yang dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran pada buku-buku yang relevan. (11) Pembayaran yang dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu rekanan tidak boleh melebihi Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah)per-transaksi, kecuali untuk pembayaran honor dan perjalanan dinas.
Koreksi Anda