Koreksi Pasal 13
PERMEN Nomor 29 Tahun 2009 | Peraturan Menteri Nomor 29 Tahun 2009 tentang TATA CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN, PEMANFAATAN, PENGHAPUSAN DAN PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK NEGARA DILINGKUNGAN DEPARTEMEN PERTAHANAN DAN TENTARA NASIONAL INDONESIA
Teks Saat Ini
Ketentuan pelaksanaan penyertaan modal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c diatur sebagai berikut :
a. penyertaan modal BMN dilakukan dalam rangka pendirian, pengembangan, dan peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Negara/Daerah atau Badan Hukum lainnya yang dimiliki Negara/Daerah;
b. BMN yang dapat dilakukan Penyertaan Modal Pemerintah :
1. tanah dan/atau bangunan; dan
2. selain tanah dan/atau bangunan.
c. pelaksana Penyertaan Modal Pemerintah Pusat adalah Pengguna Barang, dengan persetujuan Pengelola Barang untuk :
1. BMN berupa tanah dan/atau bangunan; dan
2. BMN selain tanah dan/atau bangunan.
d. pihak-pihak yang dapat menerima penyertaan modal pemerintah pusat :
1. Badan Usaha Milik Negara;
2. Badan Usaha Milik Daerah; dan
3. Badan Hukum lainnya yang dimiliki Negara/daerah.
e. pelaksanaan penyertaan modal pemerintah pusat yang berasal dari BMN :
1. pengajuan penyertaan modal pemerintah pusat atas BMN oleh Pengguna Barang kepada Pengelola Barang;
2. pengajuan penyertaan modal tersebut pada butir 1 dilaksanakan selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah penetapan status penggunaannya oleh Pengelola Barang; dan
3. dalam hal pengajuan penyertaan modal tersebut dilakukan setelah batas waktu tersebut dalam butir 2, penerima/calon penerima penyertaan modal dimaksud dikenakan sewa penggunaan BMN terhitung sejak tanggal penetapan status penggunaan sebagaimana dimaksud dalam butir 2.
f. Nilai penyertaan modal pemerintah pusat :
1. BMN sebagai penyertaan modal pemerintah pusat kepada Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah atau Badan Hukum lainnya yang dimiliki negara, nilainya berdasarkan realisasi pelaksanaan kegiatan anggaran; dan
2. BMN selain butir 1 nilainya didasarkan hasil penilaian yang berpedoman pada Pasal 11, Pasal 12 dan Pasal 13 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.06/2007.
g. pelaksanaan penyertaan modal pemerintah pusat atas BMN untuk disertakan sebagai penyertaan modal pemerintah pusat, terlebih dahulu harus diaudit oleh aparat pengawas fungsional pemerintah untuk menentukan kewajaran BMN yang akan disertakan sebagai penyertaan modal pemerintah pusat dibandingkan realisasasi pelaksanaan kegiatan anggaran;
h. setiap penyertaan modal pemerintah pusat atas BMN ditetapkan dengan PERATURAN PEMERINTAH; dan
i. semua biaya yang timbul dari pelaksanaan penyertaan modal pemerintah pusat dibebankan pada penerima penyertaan modal pemerintah pusat.
Koreksi Anda
