Langsung ke konten utama

Koreksi Pasal 6

PERMEN Nomor 21-permen-kp-2014 Tahun 2014 | Peraturan Menteri Nomor 21-permen-kp-2014 Tahun 2014 tentang LARANGAN PENGELUARAN IKAN HIAS ANAK IKAN ARWANA, BENIH IKAN BOTIA HIDUP, DAN IKAN BOTIA HIDUP DARI WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE LUAR WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PDF Sumber
100%
Hal. 1
Hal. 1
Teks Saat Ini
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik INDONESIA. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 Mei 2014 MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, SHARIF C. SUTARDJO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 3 Juni 2014 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, AMIR SYAMSUDIN LAMPIRAN: PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR 21/PERMEN-KP/2014 TENTANG LARANGAN PENGELUARAN IKAN HIAS ANAK IKAN ARWANA, BENIH IKAN BOTIA HIDUP, DAN IKAN BOTIA HIDUP DARI WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE LUAR WILAYAH NEGARA DESKRIPSI A. Anak Ikan Arwana 1. Scleropages formosus a. Klasifikasi Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Bangsa : Osteoglossiformes Suku : Osteoglossidae Marga : Scleropages Spesies : Scleropages formosus (Müller and Schlegel, 1840) Nama Dagang : Asian bonytongue Nama Umum : Siluk, Kaleso, Arwana pinok b. Gambar c. Ciri-ciri morfologi 1) bentuk badan memanjang pipih ke samping, ukuran dapat mencapai 50 cm 2) sisik amat besar dan keras berderet bagus seperti genting 3) mempunyai 2 (dua) sungut pendek dan lunak di bibir bawah 4) mempunyai banyak jenis tergantung warnanya (hijau, putih, merah) 5) daerah penyebaran di perairan Kalimantan dan Sumatera d. Karakteristik Biologi 1) arwana jantan memelihara anaknya di dalam mulut sampai anaknya dapat berenang mencari makan 2) dapat dibudidayakan di kolam-kolam dengan kondisi air netral dan suhu sekitar 270 C 3) pakan Arwana berupa karnivora, ikan kecil, sampai serangga dan anak katak (percil) 2. Scleropages jardini a. Klasifikasi Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Bangsa : Osteoglossiformes Suku : Osteoglossidae Marga : Scleropages Spesies : Scleropages jardini (Weber and Beaufort, 1913) Nama Dagang : Jardini Nama Umum : Jardini b. Gambar c. Ciri-ciri morfologi 1) bentuk badan memanjang pipih ke samping, ukuran dapat mencapai 50 cm 2) sisik amat besar dan keras berderet bagus seperti genting 3) mempunyai 2 (dua) sungut pendek dan lunak di bibir bawah 4) warna badan perak agak pink keunguan 5) daerah penyebaran di perairan Papua dan Australia d. Karakteristik Biologi 1) arwana jantan memelihara anaknya di dalam mulut sampai anaknya dapat berenang mencari makan 2) satu ekor induk dapat mengerami 40 – 60 anakan 3) dapat dibudidayakan di kolam-kolam dengan kondisi air netral dan suhu sekitar 270 C 4) pakan Arwana berupa karnivora, ikan kecil, sampai serangga dan anak katak (percil) B. Benih Ikan Botia Hidup dan Ikan Botia (Cromobotia macracanthus) 1. Klasifikasi Filum : Chordata Kelas : Osteichthyes Sub Kelas : Actinopterygii Ordo : Teleostei Sub Ordo : Cyprinoidea Famili : Cobitidae Genus : Chromobotia Species : Chromobotia macracanthus Bleeker Berdasarkan hasil penelitian terakhir oleh Kottelat et al., (2004) Botia dimasukkan dalam Genus Chromobotia, sehingga namanya menjadi Chromobotia macracanthus Bleeker. 2. Gambar 3. Ciri-ciri morfologi a. bentuk tubuh ikan botia adalah agak bulat memanjang dan agak pipih ke samping. b. kepala agak meruncing pipih ke arah mulut (seperti torpedo). c. badan bersisik, mulut agak ke bawah, dengan 4 (empat) pasang sungut di atas patil/duri di bawah mata yang akan ke luar apabila merasa ada bahaya. d. warna ikan kuning cerah dengan 3 (tiga) garis lebar atau pita hitam lebar. Pita pertama melingkari kepala melewati mata, yang kedua di bagian depan sirip punggung dan yang ketiga memotong sirip punggung bagian belakang sampai ke pangkal ekor. e. sirip perut/anal berpasangan, sirip punggung tunggal dan sirip bercagak agak dalam. f. sirip berwarna merah oranye, kecuali sirip punggung yang terpotong garis hitam. 4. Karakteristik Biologi a. penyebaran ikan botia banyak terdapat di sungai-sungai Sumatera bagian Selatan dan Kalimantan. Hidup dalam kelompok mulai dari hulu sampai ke muara. b. habitat ikan botia berada di daerah sungai dengan kondisi air ber-pH yang agak asam antara 5,0 – 7,0 dengan suhu 240 C – 300 C. c. ikan botia hidup di daerah dengan arus kuat (hulu) yang jernih dan dasar berpasir dan bebatuan, dengan kedalaman sekitar 2 meter, sedangkan benih ikan botia hidup di daerah yang berarus lemah, dasar berlumpur dan keruh (turbidity tinggi) dengan kedalaman 5 – 10 meter. d. ikan botia termasuk jenis ikan omnivora atau pemakan apa saja, walaupun pakan hidup lebih disukai. Pakan alami ikan botia adalah organisme dasar perairan, seperti cacing rambut (Tubifex sp.) atau larva serangga dasar seperti cacing darah (Cironomus sp.), juga terkadang memakan udang-udang kecil. e. ikan botia hidup di dasar perairan dan aktif mencari makan pada malam hari (nocturnal), pada siang hari umumnya hanya diam bersembunyi, termasuk ikan yang pemalu sehingga lindungan atau sembunyian dalam pemeliharaan amat diperlukan. f. daerah penangkapan ikan botia adalah di perairan yang tenang yaitu rawa-rawa dan sungai bagian hilir. Benih ikan botia umumnya ditangkap di nursery ground yaitu di tempat air pasang sampai ke hilir sungai. Penangkapan dilakukan dengan menggunakan alat tangkap bubu dari bambu, dipasang di mulut sungai ke arah rawa-rawa. g. benih ikan botia banyak ditangkap pada musim hujan yaitu antara bulan Oktober sampai Januari yang mengindikasikan bahwa waktu tersebut adalah musim ikan botia memijah, sementara pada musim kemarau tidak ada benih ikan botia di alam. MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO
Koreksi Anda